Cerpen baru

Minggu, 26 Agustus 2012

Belum berakhir...

Begitu mataku terbuka, tangan kananku sudah mati rasa. Aku tak bisa mengangkatnya lagi. Entah ini yang mereka sebut kelumpuhan atau bukan, yang jelas aku sudah tak mampu lagi mengangkat cangkir berisi coklat panas di depanku.

"Apa kau sudah bisa merasakannya?

Demikian tutur seorang pria tua di hadapanku. Dia memiliki wajah yang begitu tenang dan nampak bisa menenangkan seorang bayi yang menangis hanya dengan menatapnya.

Aku kini berada dalam sebuah ruangan bercat putih yang kosong. Yang bisa kusadari ada di ruangan itu adalah sebuah jendela tertutup di belakangku, meja putih di hadapanku yang di atasnya terletak secangkir coklat hangat, kursi besar yang aku duduki, seorang pria tua yang duduk di atas kursi yang lebih kecil daripada yang kududuki... dan tidak ada pintu.

"Atau mungkin justru kau... tidak bisa merasakan apapun?"

Itulah yang ia katakan seraya menusukan jarum suntik yang berisi cairan yang tidak kukenal ke dalam kulit lengan kananku.

Peristiwanya sangat cepat, aku tidak sempat bereaksi karena aku masih merasa shock akibat apa yang telah dia lakukan pada tangan kananku.

"Anda... apa Anda serius akan hal ini?"
"Sudah kukatakan, apa yang kulakukan ini demi kebaikanku, kebaikanmu, kebaikan'nya' dan demi perdamaian dunia ini."
"Ya... tapi-ugh!"

Rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari getaran sayap lalat sekarang. Kepalaku pusing dan tetapi juga sekaligus pikiranku serasa tenang untuk sesaat itu. Adrenalin serasa berlari di setiap pembuluh darahku. Sekarang, tanganku yang tadi mati rasa, malah merasa kesemutan.

"UUGHHH-ARGGHH!!"
Aku bergeliat karena tiba-tiba rasa sengatan listrik yang tinggi kurasakan muncul dari dalam jantungku, namun percuma saja aku meronta, karena tiba-tiba saja borgol elektrik bermunculan dari dalam kursi yang kududuki sehingga mengunciku bersamaan dengan geramanku.

"Tahan sebentar lagi... Ini semua permintaan terakhirku."
Si pria tua itu tampak begitu tenang meski aku meronta dan berteriak-teriak di hadapannya. Secangkir coklat yang masih ada di atas meja putih itu pun hanya beriak akibat gema suaraku.

Dan pada menit ke-3, rasa sengatan yang tidak tertahankan itu akhirnya berhenti...
Keringatku bercucuran deras. Anehnya, aku tidak merasa kelelahan...
Justru aku merasa ada semacam kekuatan besar mengalir dari dalam diriku.
Kursi yang dilengkapi borgol itu melepaskanku....
Aku hanya bisa menatap kedua telapak tanganku. Ah, tangan kananku sudah tidak lumpuh lagi...

"Apakah ini yang..."
"Serum terbaru ini berhasil, efeknya permanen."
"Jadi... ini yang mereka maksud 'membuat lubang lalu menanamnya, jangan menutupnya'?"
"Bisa dibilang begitu... kau sudah berhasil.

Si Pak Tua itu mengulurkan tangannya untuk menjabatku.

"Dengan demikian juga... peranku selesai."

Sebelum aku sempat menjabat tangannya, tubuh Si Pak Tua itu langsung lunglai. Wajahnya menghantam meja dan menjatuhkan cangkir berisi coklat. Kepalanya kini dibasahi coklat sebagian.

Aku hanya bisa berdiri terkejut.

Percikan api kemudian muncul dari leher Si Pak Tua itu. Kulit lehernya... meleleh? Di dalamnya nampak seperti... mesin.

"L-l-la-a-ri-i."

Itulah kata-kata terakhirnya ketika ia mengerahkan segenapa kekuatannya untuk menengadah dan menatapku dengan matanya yang kini lepas sebelah. Dari rongga matanya terlihat banyak gerigi, kabel dan benda-benda lainnya yang biasanya sering ditemukan dalam sebuah... mesin.

Dia kemudian membeku dan jatuh.

Aku hanya bisa berdiri menatap tubuh yang dingin itu...
Dan berpikir apa yang sebenarnya terjadi...

Bukankah aku hanya sukarelawan penelitian saja?
Mengapa mereka memindahkanku ke sini?
Apa yang di hadapanku ini sebuah robot?
Obat tadi... apa itu sebuah doping khusus?
Apa berarti aku tidak jadi mati?
Apa yang-

Sirine yang nyaring berbunyi.
Tembok putih di belakang kursi pak tua itu terbagi menjadi segmen-segmen balok melayang dan berputar 90 derajat secara horizontal, kemudian bergerak menjadi layaknya sebuah gerbang yang dibuka.

Di balik 'tembok' itu sudah berjajar sepasukan -kurang lebih 10 orang- bersenjata senapan laser -yang kuduga adalah tipe M22-TWINBEE dilihat dari larasnya yang ganda-. Mereka mengenakan seragam warna biru yang nampaknya seperti seragam keamanan ditambah hypercooling kevlar yang tertempel di luar seragam mereka. Masing-masing dari mereka juga mengenakan goggle yang kutebak adalah pendeteksi EMP. Ada satu orang yang menggunakan seragam yang berwarna putih berdiri di tengah, sepertinya dia pemimpin grup ini...

"Subjek 0093, Anda tengah menghadapi malpraktek akibat malfungsi A.I. pada 'server' ini.
Dia tidak menunjuk, tapi kurasa yang dia maksud 'server' adalah Pak Tua yang tergelatak ini...

"Karena itu saya mohon kerja sama Anda untuk- HEY!"

Aku langsung berbalik dan lari tanpa pikir panjang. Jendela yang ada di depanku langsung kuterjang. Dalam sepersekian detik itu, aku melihat langit... Langit sore jingga yang sangat luas dan indah dihiasi atap ratusan gedung pencakar langit yang telah menembus awan, matahari yang akan terbenam, robot burung pemantau yang berterbangan di kejauhan, pecahan kaca jendela, pecahan kaca jendela yang meleleh akibat tembakan pasukan di belakangku... dan sebuah interface yang muncul di depan mataku yang bertuliskan 'SYSTEM ONLINE' di tengahnya.



Dan saat itulah, aku merasa waktu berhenti.

Tidak ada satupun partikel bergerak di sekelilingku. Pecahan kaca maupun robot-robot di kejauhan kaku di udara.
Kemudian yang kusadari adalah interface di hadapanku berubah menjadi gambar pengeras suara dan tulisan 'PLAY - SOUND ONLY'.

"Jikalau Anda mendengarkan ini, saya ucapkan selamat! Anda adalah salah satu yang terpilih untuk menjadi subjek pene-ne-ne-lit...."
Dan yang terdengar kemudian adalah suara static yang amat bising.

"Apakah kau bisa mendengarkanku?

Tiba-tiba ada suara wanita di kepalaku.

"Kalau kau bisa mendengarkan, maka dengarkan ini baik-baik dan camkan dalam hatimu!

Dia terdengar khawatir.

"Kau sedang diburu, kau berhasil tidak menjadi 'robot' untuk sistem. Serum yang sudah kau terima mengandung nanobot buatanku. Kau masih punya kesadaran dalam dirimu.

A-apa!?

"Percobaan yang kau lakukan adalah tidak lebih dari praktik konspirasi sistem untuk membuat dirimu sebagai senjata pembunuh. Kau adalah satu-satunya NuHuman di dunia ini yang tidak akan terpengaruh perintah sistem.

Oke.... Aku mulai sedikit-

"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan kalau kau sedang dalam fase overclock. Lebih baik kita bertemu di sini-

Sebuah peta kemudian muncul di hadapanku, menunjukkan lokasi di mana kita harus bertemu. Jaraknya sekitar 10 km dari sini.

"Oh, iya. Namaku Natalia, Natalia Estova. Dan satu hal lagi,

Dia terdiam sejenak.

"Kalau kau mau menyelamatkan dunia ini, lebih baik kau lari... sekarang."

Dunia yang membeku itu kemudian mulai kembali melaju dengan kecepatan semula. Segala sesuatunya mulai bergerak... termasuk diriku yang jatuh dengan kecepatan tinggi dari lantai 128.

Dan aku terus jatuh. Semakin cepat dan semakin cepat lagi. Menembus lantai awan dan terus menuju aspal keras. Dan... aku tidak mati.
Sebelum aku terjatuh dengan kepalaku, badanku berputar dengan berporos di titik gravitasi tubuhku. Tanganku membentang seperti sayap, dan kemudian terasa kalau ada bantalan udara yang menopang seluruh tubuhku. Aku mendarat seperti burung.

Di jalanan yang agak gelap ini kulihat ada sekelompok orang bersenjata berlari ke arahku dari kejauhan, berteriak sambil menembakiku meski tak satupun dari mereka mengenaiku.

Tujuanku sudah jelas, aku tidak ingin ada di sini lagi.
Kuinjak kakiku sekuat-kuatnya, berusaha berlari menjauhi mereka semua.

Dan seketika tubuhku bergerak lebih cepat dari pesawat terbang supersonik.

Aku harus mencari jawaban atas semua ini...
Semuanya ini, belum berakhir...

------------------------------------------------------------------------------------------------------------





Ahernya beres juga, biar endingnya ngegantung sih (biasa, kalo bikin cerpen gw ga bisa konsen sama ending, maap2).

dah lama ga nulis. rasanya kaku banget.
pengennya gw sih nulis lagi, cuma gw ga punya waktu gara2 kerjaan + kuliah brow!
Haaa.... tapi jangan khawatir.... bentar lagi gw post proyek lama gw di sini. soalnya, dari konsepnya, terlalu mirip sama satu... ah, gw  sebutin aja deh, mirip sama .hack ato ga  Sword Art Online. mirip doang, emang, tadinya gw rencana mau publish cuma belum beres2 gara2 ga ada waktu. dan sekarang konsep dunianya udah mirip (inget, beda lho) sama kerjaan orang lain yang lebih keren (gw baca SAO novelnya loh, gw suka banget itu serian)...
Tapi dilema juga sih, mending gw post ato gw lanjutin aja ya?
Komentar dong...

Jumat, 22 Juli 2011

Bosan

Aku bosan... Yap, betul sekali. AKU BOSAN.
Di depanku terpampang panorama berupa kumpulan air dalam jumlah besar, atau yang sering dikatakan reporter TV yang waktu itu sering kudengar meskipun dia seringkali nampak tidak senang dengan pekerjaannya:
Sebuah bantaran berwarna biru kehijauan yang berkilauan yang di atasnya ditimpa sebuah layar biru muda cerah, laut... dan langit.

Aku sedang duduk di atas pasir pesisir yang putih sekali. Kadang aku hampir berpikir kalau itu adalah tumpukan salju. Heh, tidak mungkin. Kalau pasir ini salju lalu aku ini apa? Pangeran Inggris? Baiklah, kembali ke pokok utama permasalah manusia tunggal ini: BOSAN.

Mungkin kalian berpikir kalau kalian menggantikan aku di sini justru akan merasa lebih senang. Ya, dengan langit yang cerah, cuaca yang hangat, pemandangan yang indah dengan gunung berapi besar sebagai 'monumen'nya dan sebagainya dan sebagainya... Biar aku beri tahu kepada kalian semua apa itu arti kebosanan hei kalian para pemakai kacamata kuda!

Tentu pemandangan yang luar biasa ini sangatlah mengagumkan... Sampai kalian sadar bahwa 13 hari sudah berlalu dan cuma kalian yang ada di pulau ini...
Apa? Oh, apa aku belum bilang? Kalau tempat ini adalah pulau terpencil yang ada entah di mana dan aku terseret ke sini. Sudah sadar? Bagus. Sebaiknya cepat tarik keinginan kalian untuk menggantikanku di pulau terkutuk ini.

Biar kuceritakan, aku sebagai-
Oh, biar lebih cepat dan jelas, biarkan aku menggunakan kalimat yang sederhana dan singkat.
Aku dibuang dari kapal.
Bagaimana? Cukup jelas 'kan? Kalian memang anak-anak TK terpintar yang pernah aku temui.

Baiklah kembali ke keadaan sebelumnya. Aku sedang duduk selonjor di atas pasir terhalus yang mungkin pernah manusia sentuh sebelumnya. Tidak ada siapapun di sini kecuali aku dan pakaianku yang sedikit compang-camping dan warnanya yang tadinya putih sekarang jadi coklat dan sepatu sprint-ku yang agak basah meskipun masih enak dipakai dan juga bayanganku yang rasanya selalu mengetawaiku dengan puas dari pertama kali aku menginjakkan kaki- atau lebih tepatnya dilempar -di sini.

Cih, aku benar-benaaaaaaaaaaaaaaaaaar bosan,
Lht btapa bsnnya aq smpe2 aku mggunakan kal sms?
Hanya saja aku tidak bisa menggunakan telepon genggam sebagai sarana penghilang rasa bosan. Karena, yah... tidak ada sinyal di sini... atau mungkin yang lebih penting karena handphoneku diambil klompotan monyet liar di pulau ini sekitar 10 hari yang lalu.

Udara sudah terasa agak dingin. Mungkin sekarang sudah jam 4 sore. Lebih baik aku kembali ke 'kabin'. Kabin itu berada tidak terlalu jauh dari pantai, hanya sekitar beberapa puluh meter saja, hanya saja dikelilingi vegetasi dengan bentuk-bentuk paling mengerikan yang pernah kulihat dan kurasa aku tidak mau menjelaskannya semenjak aku hampir menganggap salah satu pohon itu salah satu guru SD-ku yang menyebalkan.
Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa ada kabin di pulau terpencil seperti ini. Jangan tanya kepadaku, aku cuma orang idiot yang terpaksa dibuang ke laut karena kalah taruhan -yang dimana aku sama sekali tidak ikut main- oleh orang-orang yang mabuk di atas kapal pesiar 13 hari yang lalu. Yang pasti, kabin itu berasal dari sisa 'semacam pesawat militer' yang jatuh dan patah sayap-sayapnya dan menyisakan bagian tengahnya saja. Bagian tengahnyapun berlubang besar di tengahnya. Mungkin pesawat itu terjatuh karena pilotnya mabuk dan setengah idiot.
Baiklah... jangan berprasangka buruk dulu padaku, aku cuma orang yang sedang marah pada pelaut pemabuk. Pilot pesawat itu mungkin tidak mabuk, mungkin cuma ditusuk dari belakang dengan pedang katana oleh penumpangnya. Bisa dilihat dari sisa tulang-tulangnya yang ada di pinggir kabin, kok. Tapi kalau pilot itu idiot, ada kemungkinannya semenjak, euh... kenapa kau perbolehkan orang bawa senjata tajam di udara?

Oke, cukup dengan sinismenya. Aku mulai merasa kedinginan, jadi kunyalakan api di luar kabin. Pesawat ini cukup hebat juga, karena setelah pendaratan yang 'kurang mulus' ini, barang-barang di dalamnya tidak terlalu bertebaran di mana-mana. Masih ada cukup banyak makanan atau ration militer yang bisa mencukupi perut seorang pria untuk waktu sebulan penuh. Dan yang lebih hebat lagi, ada bahan bakar di sini. Aku rasa, aku masih bisa selamat... semoga saja. Sayangnya meskipun ini pesawat militer, selain pedang katana yang sekarang aku pakai sebagai kampak pemotong, tidak ada senjata lain sama sekali. Ugh, aku tidak mau mati dengan harakiri.

Selama 13 hari, rutinitas ini yang selalu kulakukan. Pagi hari aku mencari sesuatu yang tidak jelas, siang hari aku termenung tidak jelas, dan malam hari aku istirahat dengan penuh ketidakjelasan. Haaa... kapan aku bisa keluar dari sini? Aku mengambil selembar kain penutup barang-barang yang diikat dalam bagasi pesawat sebagai pengganti selimut. Kugenggam kain itu erat-erat, berharap bahwa rasa dingin itu aku akan segera digantikan panas badanku sendiri. Dan akupun tertidur...

...
...
...

Mungkin tidak.

Kalian mungkin ada yang berpikir apa aku tidak takut ada disini?
Takut? Yang kualami sekarang jauh lebih hebat dari takut! Aku hampir saja konstipasi -atau kalian pikirkanlah gejala menyebalkan lainnya- di sini! Coba saja kalian pikir! Kalian terdampar di pulau tanpa penghuni seperti ini sendirian, lalu bayangkan kemungkinan yang bakalan terjadi! Bisa saja tsunami terjadi (yang berarti menyebalkan), atau juga gunung berapi meletus (yang berarti menyebalkan), atau ada beruang grizzly yang sedang lapar (memangnya ada beruang di pantai? Mungkinkah Pedobear!?), atau mungkin ada teroris yang ikut terdampar di sini (mana pedangnya!? Biar kucincang dia!!!).

Ya... tapi, setidaknya aku sekarang sendiri...
Aku tertidur sekarang.

Keesokan harinya, aku akan mencoba untuk mencari sesuatu lagi di sekitar pulau. Siapa tahu pulau ini punya hotel bintang lima dan- oh, aku tidak bawa uang. Aku kembali merasa depresi.
Aku tiba di depan sebuah mulut gua yang sangat besar. Mungkinkah gua ini menyambung ke perut magma dari gunung berapi di pulau ini? Karena aku mencium bau belerang yang menyengat, yang mirip bau keringat kapten kapal waktu itu... lebih baik kalau aku tidak mengingatnya. Kutarik nafas, dan aku masuk ke dalam... 30 detik kemudian aku kembali ke luar. Jangan salahkan aku, di dalam gelap sekali. Aku cuma bisa mengambil teleponk- APAAAAAAAAAAAAAAA!!?????

Aku sedang menggenggam telepon genggamku yang hilang 11 hari yang lalu! Oh, dan masih bisa menyala!! AAAAAAaneh sekali? teleponku tidak akan mungkin bertahan selama lebih dari 1 minggu... kecuali para monyet itu tidak sengaja menekan tombol off nya... Ah, baiklah sekarang waktunya untuk menelpon-

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Hah? Suara orang?


To be continued...

-------------------------------------------------------------------------------------------------

DENGAN INI KEVIN 'knocky' menyatakan akan membuat cerita bersambung dalam beberapa bagian (ga panjang kok, tenang aja). Jadi, kalian para pembenci literatur klasik dan modern, bersiaplah ditampar oleh literatur kontemporer.

Btw, gua mau minta maaf soalnya udah ampir setengah taun ga nulis. Gaya tulisan gua jadi dark banget nih, maaf ya! Gara2 kuliah dan proyek novel-novelan gua nih. Thanks banget kalo kalian udah mau baca tulisan ancur ini. Godbless Oblige.