Cerpen baru

Minggu, 27 Juni 2010

Angkasa Bebas

Entah sudah berapa lama aku tinggal di tempat ini sembari duduk diam tanpa bicara. Penjara kosong dengan kegelapan di setiap sudut sel, ditemani sinar-sinar kecil yang tembus dari ventilasi di dinding bagian atas. Meskipun semua yang terlihat ini hasil virtualisasi sebuah penjara kecil, aku tetap senang. Ya, aku lupa bilang kalau aku ada di dalam sebuah penjara khusus, bagi orang-orang khusus. Semuanya nampak begitu damai meskipun ini semua kegiatan repetisi ini hasil dari semua tindakanku.

Aku berada di sini karena sebuah tindakan kejahatan... bukan? Aku telah menghancurkan sebuah kota dengan tanganku sendiri. Lebih tepatnya, aku meledakkannya... bersama diriku. Bukankah aku harusnya mati? Tidak, karena aku tidak dikasihani oleh yang di atas...

Mereka -para atasanku- menyuruhku untuk melanjutkan penelitian terlarang tentang manusia super, namun aku sudah kekurangan bahan percobaan karena semua manusia yang dijadikan kelinci percobaan mati semuanya. Yah, walaupun mereka semua yang diujicoba adalah penjahat-penjahat kelas kakap, semua ini tetap tidak manusiawi. Seakan-akan aku telah menjadi algojo.
Karena aku kekurangan orang, maka para atasanku menyuruhku untuk melakukan ujicoba pada diriku sendiri. Awalnya aku tidak mau, tetapi mereka memaksaku dan mengancam akan membunuhku. Tapi, bila kupikir-pikir kembali, jika aku mati dibunuh mereka, aku akan rugi. Tapi, jika aku melakukan ujicoba itu, siapa tahu akan berhasil. Lagipula kalau aku mati dalam percobaan, aku tidak akan kehilangan apapun. Keluargaku telah tiada, pacarku meninggalkanku, aku sudah banyak utang dan lain sebagainya. Jadi kubawa saja diriku ke luar zona amanku dan mengambil tindakan beresiko ini.

Percobaanku berhasil...
Tetapi,

Seisi kota hancur termakan ledakan hasil dari proses fusi manusia super.

Para atasan itu menyalahkanku. Mereka malah menganggap kalau aku ini berbahaya dan terpaksa mengurung diriku. Memang, semua ini salahku. Aku tidak mencoba menolak tawaran mereka tetapi hanya menurut saja seperti anjing yang diikat majikannya. Aku tidak memikirkan tentang apa yang akan terjadi di depan...
Aku memang pantas mendapatkannya...

"HEI! Kau si Ilmuwan Gila alias Demo-man itu 'kan?"
Seseorang menyahut dari luar sel. Tempat itu gelap. Aku tidak bisa melihat siapa dia, yang jelas sepertinya dia laki-laki.

"Jika ya, memang kau mau apa? Aku sedang berusaha meratapi kesalahan yang telah aku perbuat...", jelas diriku.

"Berarti kau memang Demo-man. Kau yang menghancurkan Topplehamm, bukan?"
Dia malah terdengar makin bersemangat.

"Ya, dan selanjutnya adalah dirimu jika kau tidak mau meninggalkan tempat ini."

"Aw, jangan begitu. Lagipula, aku di sini untuk membebaskanmu!"

"Jangan bercanda, aku dihukum 200 tahun penjara. Itu sama saja dengan seumur hidup.", kataku dengan nada yang lebih depresi.

Namun, dia malah tertawa.
"200 tahun? Peristiwa Topplehamm itu sudah 314 tahun yang lalu! Apa kau tidak sadar?"

314... APA!? Jadi...

"Kau memang harusnya sudah bebas semenjak 100 tahun yang lalu!"

"Tapi... mengapa aku tidak menua sama sekali?"

"Ya ampun, kau sudah tidak bicara lagi dengan kepala sipir ya? Tentu saja, karena mereka semua sudah mati! Mereka sudah membusuk duluan sebelum bisa memeriksa keadaanmu. Ditambah lagi sebelum kau bebas, bangunan di sini sudah runtuh."

"Runtuh? Karena usia?"

"...anggaplah begitu. Aku saja terpaksa memeriksa puing-puing untuk menemukan sel milikmu."

Jadi, selama aku berdiam di sini, semua sudah berubah...

"Sebentar... jadi tujuanmu ke sini hanya untuk membebaskanku?"

"Oh soal itu..."

Dia terdengar menjauh, lalu mengoperasikan kendali di sisi luar kanan sel. Seketika itu juga sel milikku terasa terangkat ke atas kemudian terbuka, dan sel yang kecil dan gelap itu tiba-tiba diterangi sinar matahari. Dan yang kulihat selanjutnya adalah matahari dan puing-puing bangunan, bukan hanya dari penjara tapi dari seluruh kota yang ada di seberang lautan. Seingatku, kota ini tidak sedekat ini dari pulau terpencil tempat aku ditahan. Lalu aku melihat pria itu, pakaiannya kumal seperti pengemis dengan wajah kotor. Ia mengenakan sebuah helm bersenter, dan perlengkapan untuk mengekskavasi reruntuhan. Dia menghadapkan wajahnya padaku lalu menunjuk ke arah belakangku. Aku pun menengok dan melihat sebuah pesawat terbesar yang baru pertama kali aku lihat.

"...kau adalah harapan terakhir umat manusia... Benda angkasa yang dikendarai oleh bangsa alien itu akan menyedot kehidupan di bumi ini..."
Suaranya terdengar serius.

Memang, aku melihat bahwa pesawat itu seperti mengangkat pepohonan dan benda lainnya dan menyedotnya ke dalam pesawat itu. Jadi kurasa orang ini tidak berbohong.

"Memang apa yang bisa aku lakukan?"

"Sama seperti yang telah kau lakukan di Topplehamm."

Begitu ya... Aku telah berbuat salah di masa lalu. Ini waktunya bagiku untuk memperbaikinya. Mungkin aku memang berpikiran pendek sebagai Ilmuwan Gila, tapi aku juga manusia yang ingin memperbaiki masalah yang terjadi. Tuhan bukannya tidak memaafkanku, tapi dia memiliki rencana lain... dan kurasa ini dia...

Akupun melompat dan melayang sangat tinggi hingga mendarat di atas pesawat itu. Pesawat itu pun berusaha untuk menyedotku. Sebelum seluruh tubuhku dicerna oleh benda melayang tersebut, aku mengerahkan seluruh tenagaku dan meledakkan pesawat itu hingga berkeping-keping. Aku jatuh dari ketinggian, menatap langit, awan, matahari...

Ahh... Angkasa ini begitu bebas...



-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

MAKIN ANEH DAN ABSURD? ITULAH TULISAN GUA. MENURUT LOE?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar