Himmel hanyalah anak biasa yang nasibnya tidak seberuntung anak-anak lain seusianya.
Dia dijual orangtuanya saat ia berumur 5 tahun. 10 tahun telah berlalu dan kebebasannya juga telah dikekang selama itu juga. Bekerja sebagai tukang pemotong daging di bawah pengawasan majikannya yang kejam. Hidupnya penuh dengan kesengsaraan dan keterpurukkan. Tiap hari hanya bisa memotong daging, mengotori pakaiannya yang kumal dengan darah hewan, kemudian dikurung di selnya pada malam hari. Tidak sedikitpun kebahagiaan pernah nampak dari wajahnya. Yang bisa menguatkannya untuk menjalani hari-hari ke depan hanyalah langit yang begitu luas yang cuma bisa dia lihat dari ventilasi di ruang pemotongan daging.
Namun, sesuatu yang besar akan terjadi...
dan mungkin dia juga tidak akan pernah percaya kalau hal itu terjadi.
Hari-hari masih berlanjut sama saja dengan teriakan sang majikan.
"Kau, potong itu!", "Hey, mana pisauku!?", "Cepat kerja!!"
Perasaan kesal dan marah terpaksa ditelannya, karena jika ia membangkang, dia akan dikurung selama lebih dari seminggu.
Hari ini adalah ulang tahunnya sekaligus bertepatan dengan Festival Langit - Festival di mana para rakyat Kerajaan Ou merayakan turunnya mahluk bersayap dari bulan sesuai dengan mitologi yang ada di kerajaan itu.
Himmel lebih senang jika dalam hari ini dia mendapatkan sebuah hadiah: Kebebasan. Tidak ada hal lain yang lebih dia inginkan selain diam tanpa harus disuruh-suruh secara paksa dan diteriaki oleh orang lain (terutama majikannya).
Tapi dunia ini kejam.
Tak ada lagi harapan bagi anak itu untuk mendapatkan sesuatu yang paling ia inginkan. Hadiahnya yang dia harapkan tidak akan pernah ada. Malah, kerja paksa yang ia dapatkan seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Segera kirimkan daging-daging ini! Sebaiknya kau cepat pulang karena kalau kau tidak kembali..."
Si majikan mengayunkan pisaunya dengan kencang dan langsung membelah tulang iga sapi yang ada di atas talenan menjadi 15 bagian.
"...akan kuledakkan lehermu!"
Himmel hanya bisa menunduk diam tanpa suara dan pergi menuju sektor 11.
Kerajaan Ou memang termasuk kerajaan terbesar yang pernah ada. Dibagi menjadi 11 sektor dan dinamai dengan nomor. Setiap nomor menunjukkan seberapa tinggi tingkat kesejahteraan penduduk sektornya.
Bagi Himmel yang selalu dikurung di sektor 1 dan selalu dikekang dengan Kalung Budak, melihat wajah penduduk sektor 11 yang penuh dengan keceriaan hanya membuatnya merasa kesal. Dia berpikir kalau orang-orang itu pasti tidak tahu rasanya hidup dengan membawa bom yang tidak bisa dilepas.
Himmel terus berjalan melewati jalan utama. Pakaiannya yang kumuh dan bernoda darah mengundang perhatian orang-orang disekitarnya. Tidak tahan terhadap tatapan jijik para penduduk sektor 11, ia langsung berlari dengan terburu-buru. Dia lari tanpa tahu kemana arah tujuannya.
Himmel pun kelelahan dan secara tidak sadar tiba di sebuah taman. Taman itu sangat indah karena dipenuhi bunga-bungaan yang indah. Setidaknya itu yang bisa dihasilkan tumbuhan artifisial. Bunga yang ada di taman itu hanya indah di pandangan tapi tidak memberikan sebuah 'keindahan' yang lain, yaitu kehidupan.
"Indah bukan?"
Suara lembut terdengar di belakang Himmel. Seorang gadis yang sedang membawa pot berisikan bunga 'palsu' lainnya adalah sumber suara tadi.
"... mungkin. Aku sudah tidak tahu lagi mana batasan antara mana yang indah dan mana yang tidak."
"... begitukah?"
Si gadis itu berjalan ke tengah taman lalu meletakkan pot yang ada dipegangnya tadi di atas tanah kosong.
"Kalung itu... apa kamu..."
"Budak. Iya."
"..."
Si gadis itu kemudian berdiri lalu menghadapkan wajahnya kepada Himmel.
"Apa... yang paling kamu inginkan saat ini?"
"Bebas. Lepas dari jeratan."
Si gadis kemudian berjalan ke ujung taman itu.
"...kau tahu tentang bunga Mortema ini?"
Si gadis kemudian mengangkat tanaman berbentuk yang berbentuk bulat.
"Mortema?"
"Bunga ini terkurung di dalam kelopaknya dan tak mau membukanya karena udara yang ada di sini akan langsung membunuh bunga ini."
"Bunga yang bodoh."
"Tapi, apa kau juga tahu kalau sebenarnya begitu bunga ini terbuka, sebenarnya ia tidak sepenuhnya mati? ...Lihatlah."
Salah satu bunga bulat yang ada di taman itu mekar. Bunga itu nampak begitu jelek saat kelopaknya bermekaran karena bunga itu langsung layu dan mengering. Tapi, ada hal lain yang terjadi saat itu. Ada sebuah bunga mekar lain di dalam bunga layu itu yang menyundul keluar lalu melayang ke angkasa dengan indah. Bunga itu kemudian turun kembali ke atas tanah dan kemudian menutup dirinya lagi dengan kelopak barunya yang muncul dengan kecepatan di atas kecepatan regenerasi seekor kadal.
"..."
"Kau tahu, bunga itu terus melakukan itu karena ia takut mati. Dia lebih memilih terperangkap dirinya sendiri daripada harus berjuang menghadapi rasa takutnya."
"Aku ini lebih rendah dari manusia. Aku bisa disamakan dengan bunga itu."
"...tidak. Kau ini manusia. Dan... mungkin lebih daripada itu."
Himmel bingung mendengar gadis itu berbicara seperti itu.
"Apa maksudmu?"
"Aku cuma bisa bilang, manusia bisa bebas kalau dia mau bebas."
Perkataan gadis itu terus tertanam di pikirannya bahkan hingga ia pulang kembali ke 'rumah'nya. Benarkah ia memang semestinya bisa bebas? Apa selama ini dia terus termakan rasa takutnya sendiri? Tapi, bukankah Kalung Budak itu memang bisa membunuhnya? Himmel semakin kebingungan (sama dengan pengarang, super pusing nih). Tapi... dia sudah muak dengan semuanya. Rasa gerah dan kesal yang tertumpuk selama 10 tahun akhirnya memuncak. Dia cuma ingin: bebas.
Pergi ke festival. Cari jalan keluar. Aku tidak akan mati.
Malam telah tiba. Himmel melangkahkan kakinya keluar dari 'rumah' secara diam-diam. Majikannya sedang ada di festival. Himmel cuma berharap agar ia tidak bertemu dengannya.
Ia harusnya keluar ke arah barat, menuju gerbang masuk, kemudian tewas meledak setelah kalung di lehernya terdeteksi sensor peledak. Tapi, itu hal bodoh. Jadi ia mencoba cara lain...
Cari kembang api terbesar...
Tinggal beberapa puluh detik lagi menuju penyalaan kembang api besar di tengah kerajaan. Himmel yang berlari ke arah tempat kembang api itu dinyalakan akhirnya ketahuan oleh penjaga di sekitarnya. Yang lebih parah lagi, majikannya juga mengejarnya. Seharusnya dia mati saat itu juga tetapi majikan Himmel adalah orang yang paling ingin menyiksanya hidup-hidup, jadi si majikan malah ikut mengejarnya.
Waktu hingga tengah malam 10 detik lagi...
10... 9...
Para penjaga berhasil dilewati.
8... 7...
Si majikan juga berhasil ia lewati. Bekerja menjadi budak dan kuli angkut 10 tahun ternyata tidak sia-sia.
6... 5...
Kembang api besar itu masih menyala pada bagian sumbunya. Himmel meloncat dan kemudian berpegangan pada kembang api itu.
4... 3...
Sebuah tombak meluncur dengan cepat. Himmel tidak bisa menghindar. Tombak yang dilemparkan seorang penjaga yang bertubuh besar itu menancap di dadanya dan menembus hingga ke kembang api berbentuk roket itu.
2... 1...
Himmel tertunduk lemas, tapi tangannya masih tetap mencengkeram dengan kuat. Darah mengucur dari dalam dadanya yang tertancap tombak.
0.
Roket kembang api meluncur ke atas, ke langit gelap yang dipenuhi bintang dan di hiasi 4 bulan. Roket itu terus meluncur, membawa Himmel yang sudah tidak bernyawa lagi.
Roket itu meledak, membentuk kembang api besar yang indah. Tapi, Himmel tidak ada di sana.
Ia ada di sana, di genggaman salah satu dari tiga mahluk bersayap. Himmel melayang di atas tangan mahluk itu. Ia melayang karena ia juga... memiliki sayap. Mata Himmel kemudian terbuka kembali.
"Aku... memang bebas, 'kan?"
Keempat mahluk bersayap itu kemudian pergi menuju bulannya masing-masing, kemudian menghilang ditelan terangnya sinar bulan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Plis, gua lagi pusing. Jangan komentar yang aneh2. Nanti cerita gua yang selanjutnya malah makin aneh. Gua sendiri eneg bacanya...
keren tau>.<kenapa karya u gua suka semua ya??hahaha
BalasHapus