26 Juli.
Aku berusaha untuk melupakan'nya' tapi nyatanya aku tidak bisa. Setiap kali aku memegang rangkaian besi itu dan melihat pelatuknya, aku semakin tidak bisa melakukannya. Hari ini aku ditugaskan untuk membunuh dia.
Pada awalnya tentu aku tidak menolak perintah atasan. Jika target sudah ditentukan, maka aku harus melakukannya tanpa pandang bulu. Entah sudah berapa banyak yang kubunuh. 20? 30? Aku tidak ingat. Aku benci matematika.
Tapi, baru kali ini aku merasakannya. Aku merasa bahwa satu pilihan yang kubuat akan berakibat fatal. Padahal, aku belum pernah merasakan perasaan semacam ini. Perasaan di mana jantungmu terasa akan turun ke perut jika kau mengeksekusikan perbuatan semacam itu. Perasaan di mana pertama kali kau akan kehilangan sesuatu yang amat berharga bagimu. Sesuatu... yang lebih berharga dari hidupmu yang telah kau jual pada iblis.
Aku bingung...
Aku takut...
Aku... harus melakukan apa?
Dia adalah targetku. Dia adalah temanku... mungkin lebih dari seorang teman. Entahlah, tapi aku tidak bisa menjelaskan perasaan antara seorang pria dengan seorang perempuan secara tepat. Yang pasti, korbanku yang selanjutnya adalah seseorang yang amat berarti bagiku.
Aku pertama kali bertemu dengannya saat dia mengadakan konsernya. Aku masih menjabat sebagai budyguard kala itu. Saat aku melihatnya di atas panggung, disinari cahaya lampu sorot, aku merasa... aku melihat seorang malaikat yang turun di hadapanku.
Matanya yang bening, tubuhnya yang gemulai dan suaranya yang indah... menyejukkan hatiku yang telah tenggelam ke dasar kegelapan. Aku terpaku saat itu juga, begitu juga dengan ribuan penggemar yang menontonnya.
Selesai dari konsernya, aku langsung berpindah mengikutinya ke belakang panggung. Pada saat itulah dia berbicara pertama kalinya padaku. "Kerja bagus!", itu katanya sambil tersenyum. Senyumannya seakan telah membawaku ke cahaya yang lembut dan hangat, mencairkan hatiku yang telah membeku selama ini.
Aku ingat topik pembicaraanku saat aku dengannya di belakan panggung itu. Tentang bagaimana aku mengendalikan situasi, tentang pistol yang selalu terselip di pinggangku, tentang bagaimana aku masih seumuran dengannya dan sebagainya. "Kuharap kita bisa sering bicara lagi.", itulah katanya saat aku selesai mengantarkannya ke rumahnya. Dan, kami berdua menjadi sering berbicara saat dia selesai menggelar konsernya. Tempatnya selalu di belakang panggung atau di ruang ganti. Itulah saat-saat paling berkesan dalam hidupku. Saat-saat di mana aku bisa merasa nyaman, damai dan tentram... hingga jabatanku dinaikkan dari bodyguard menjadi hired gun.
Ya, itulah cara kerja organisasi kami. Tanpa tanda apapun, seorang agen akan langsung dinaikkan jabatannya. Tentu saja aku tidak bisa menolak. Hidupku sudah kujual pada organisasi itu dan aku sudah menjadi anjing mereka. Aku tidak bisa bergerak ke mana-mana lagi. Terkekang oleh rantai dan hanya bisa menuruti sang majikan. Jika tidak menurut, sang majikan akan menghukumnya. Anjing mungkin lebih beruntung bagiku, karena hukuman bagi mereka yang tidak patuh pada organisasi adalah: mati.
Tapi...
Targetku kali ini...
1000 hours, SweetDome, koordinat X: 289,9 Y:987,9
Aku dan Beretta kaliber .50 menunggu di pos aman, di titik buta di sekitar SweetDome.
Ketika aku menanyakan apa alasan dia harus dibunuh... seperti biasa, 'itu bukan urusanmu'. Aku tidak tahu apa yang klien kali ini mau, tapi aku sadar bahwa dia sedang digunakan sebagai alat kampanye sebuah perusahaan dan aku yakin kematiannya akan membawa dampak negatif bagi perusahaan yang 'menyewa' nya.
Sebentar lagi dia muncul...
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menggenggam senapanku dengan erat. Jariku sudah bersiap untuk menarik pelatuk.
Dia muncul!
Aku terdiam. Dia tersenyum ke arah penonton, menyapa mereka kemudian mulai bernyanyi.
Pikiranku mulai berkecamuk saat itu. Aku tidak mengerti mengapa gadis seperti dia harus mati begitu saja. Mengapa dia harus mati? Mengapa? Dan mengapa harus aku? Mengapa harus aku yang mencabut nyawanya? Apa ini semacam hal yang lucu? Apa dunia ini mempermainkanku atas semua hal yang telah kuperbuat? MENGAPA?
Dan kemudian dia melihat ke langit~seakan-akan melihat jauh ke dalam mataku, kemudian tersenyum. Kepalaku terasa ringan. Tubuhku yang menggigil karena bingung telah berhenti bergerak. Aku... merasakan kebahagiaan saat melihat senyuman itu.
Aku telah mengerti.
Konser telah usai. Aku bangkit dari posisiku. Teleponku berdering, itu dari organisasi. Mereka menanyakan mengapa aku tidak melakukannya, mengapa aku tidak menarik pelatuknya.
Aku cuma bilang, "itu bukan urusanmu."
Kubuang teleponku.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
OH GAWD!!!! Gua kepikiran terus cerita ini dari kemarin2!!!! cuma ga ada waktu buat nulis!!!! Gua cuma ngabisin sejam setengah buat nulis nih barang!!! WAAHOOOOOO!!!
Edun yah? Lagi rada sarap gua.
So... seperti biasa
saran, komen, dll ditunggu. Btw, ini cerita terlalu pendek jadi kayanya bakalan bersambung deh...
-Knocky
keren2^^eh lanjutannya yang cepet yah kalo bisa^^
BalasHapussemoga saja....
BalasHapus