Cerpen baru

Selasa, 28 Desember 2010

Tulisan Kala Natal

Inilah aku, duduk diam di tengah bar yang sepi ini. Meneguk wiski terakhir yang bisa kupesan dengan sisa uang di kantung jaketku. Aku berpikir, "Apa hidupku harus terus seperti ini?"

Aku adalah seorang jurnalis amatiran yang tidak memiliki ambisi besar seperti layaknya jurnalis hebat lainnya. Ketika mereka mencari berita yang paling panas dan sensasional, aku hanya mencari potongan cerita yang hanya ada di sekelilingku, entah itu kucing tetangga yang hilang, istri tuan tanah yang lari (itupun hanya aku liput sedikit), atau hanya tentang deterjen rumah tangga lokal yang harganya entah kenapa menurun secara drastis.

Ini adalah kesempatan terakhirku. Kepala redaksi akan memecatku jika aku tidak meliput berita yang benar-benar bagus. Aku... tidak tahu lagi harus melakukan apa.

Hari ini adalah malam Natal. Salju bertebaran di mana-mana, udara dingin menusuk tulang-tulangku. Aku cuma ingin pulang ke rumah, tidur di kasur lamaku yang hangat dan berharap agar semua ini berakhir. Ya, itu adalah pemikiran dari seseorang yang telah kalah dengan egonya, bahkan saat di malam Natal.

Aku tidak tahu lagi dan tidak peduli lagi. Kuserahkan dollar terakhirku kepada si bartender.
"Ambil kembaliannya."
Apa yang sebenarnya harus kulakukan?
"Terimakasih banyak dan selamat Natal!"
Meskipun si bartender menjawab dengan penuh semangat, aku cuma bisa berpaling darinya dan berjalan ke luar bar itu.

Putih. Seluruh jalanan memutih karena salju turun.
"White Christmas, ya?"
Aku berbicara pada diriku sendiri.

Di jalan menuju pulang aku melihat sebuah gereja kecil di pinggir jalan.
...
Aku memang sudah jarang pergi ke gereja semenjak aku memulai pekerjaan ini. Dulu, aku sebenarnya sama seperti semua orang, memiliki impian yang ingin kugapai. Sayangnya, semua itu sirna setelah dia meninggalkanku. Aku menjadi orang yang merasa kalau aku terlalu berusaha, maka rasa sakit yang kudapatkan setelah gagal akan menjadi lebih menyakitkan. Begitu juga dengan kepercayaanku terhadap Tuhan. Tapi, mungkin kali ini saja...

Aku masuk ke dalam gereja itu. Hari sudah malam. Nampak ada beberapa orang di dalam sana yang sedang berlatih paduan suara. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak. Aku duduk paling belakang, melihat paduan suara anak-anak itu sedang menyanyikan lagu 'O Holy Night'.

Indah.

Sangat indah. Lalu entah mengapa aku meneteskan air mata.

"Aku... sudah sangat jauh, ya?"
Aku pun berkata pada diriku sendiri.

Sebelum lagu itu habis untuk dinyanyikan, aku berdoa. Aku hanya ingin mendapatkan semangatku kembali. Itu saja.
Air mataku kembali keluar dengan sendirinya.

Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan kehangatan seperti ini...

Akupun keluar dari gereja itu. berjalan melalui gang kecil menuju apartemenku.

Dan aku melihat seorang pria terbaring di samping tembok. Dia terluka berat di bagian perutnya. Darah mengucur, membuat salju di sekitar tubuhnya memerah. Dia nampak kesakitan, sepertinya dia korban perampokan dan kejadiannya masih belum lama.

Aku terpaku. Tidak ada siapa lagi di sana dan tepat saat malam natal. Dan kemudian muncul suara dalam kepalaku: "Tolong dia!"

"Anda tidak apa-apa?"
Aku langsung mendekati pria itu.
"T-tolong... ha-hadiah... jangan ambil..."
Pria itu menggigau, sepertinya hadiah untuk anaknya diambil.
Tidak ada waktu lagi mencari bantuan dari orang lain...
"Kita harus ke rumah sakit."


Aku menggotongnya dan terus berbicara kepadanya supaya ia tidak kehilangan kesadaran. Nyawanya benar-benar terancam, apalagi kala itu sedang dingin sekali. Meski dia sudah mengenakan jaketku, tetap saja hari itu benar-benar dingin. Aku sendiri juga ikut menggigil.

"Anda masih mendengar saya, pak?"
"I-iya..."
"Jangan menyerah pak, kita hampir sampai rumah sakit."

Mengapa...
Mengapa aku melakukan semua ini?
Rasanya baru kali ini aku melakukan sesuatu dengan sepenuh hati seperti ini.
Apa ini karena menyangkut nyawa seseorang?
Atau...


Beberapa jam kemudian, di dalam rumah sakit.

"Bagaimana kondisinya, dok?"
"Dia akan baik-baik saja, lukanya tidak terlalu fatal. Keluarganya juga sudah datang menjemput."

Begitu aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulut si dokter, rasa lega mengalir di seluruh tubuhku.

Untunglah... untung saja...

Di luar kamar pasien, aku melihat pria itu bersama dengan istri dan anak-anaknya. Mereka semua menatapku, seolah mereka berterimakasih padaku.

"Paman, apa paman yang menolong Papa?"
Seorang anak kecil muncul di sampingku, dia juga anak dari pria tadi.
"Iya, untung saja belum terlambat."
"Terimakasih paman! Paman memberikan kado terbaik di malam natal ini."
Senyum terpancar di wajah anak kecil itu.

Sesaat, aku merasakan kehangatan yang sangat aku rindukan.
Terimakasih... ya?



Hari Natal.
Keluarga pria yang kemarin aku tolong mengirimkan kartu ucapan dan juga banyak makanan pada hari itu. Mereka terlihat sangat berterimakasih dari tulisan dalam kartu itu.
"Terima kasih."
Itu yang tertulis dalam kartu itu.


Aku... selalu melakukan hal yang terbaik, hanya demi diriku sendiri.
Aku belum pernah melakukan sesuatu secara sepenuh hati kepada orang lain.
Kemarin, aku disadarkan kembali.
Hidupku haruslah memiliki tujuan... membantu mereka yang kesulitan.

Dan... hei, kau tahu?
Aku rasa aku tahu harus menulis apa kali ini.

END

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Finally, selese juga bros and sis

karya bulan desember nih, idenya udah dapet dari minggu lalu tapi baru sekarang kesampean nulisnya.

Cih, lagi ngerjain tugas juga nih gua... T.T
Moga2 cepet beres dah...

Btw, makasih banyak ya buat yang udah baca, jangan lupa disebar2in tapi tulisan ini punyanya knocky ya............

THX & BEST REGARDS!
393939393939393939!!!!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar