Cerpen baru

Jumat, 02 Juli 2010

Nyata/Terwujud

Dalam hari-hari terakhirku di bumi ini, aku mengalami sebuah kejadian yang cukup menarik...

Seseorang yang begitu berharga di mata kita pasti akan muncul cepat atau lambat. Tapi, cara mereka menunjukkan diri mereka juga pasti berbeda-beda. Dalam hal ini dia juga menunjukkan dirinya dengan cara yang tidak biasa.

Semuanya terjadi saat aku menerima kenyataan pahit dari dokterku. Umurku baru 17 tahun tapi dia bilang waktuku tidak akan lebih dari 1 tahun lagi. Ini semua karena penyakit aneh yang menggerogoti... pikiranku. Dokter bilang kalau ini semacam gangguan cara berpikir karena imajinasiku yang berlebihan sehingga memperberat kerja otakku. Tentu saja aku tidak percaya, karena aku tahu kalau manusia cuma menggunakan 5% kemampuan otaknya dalam keseluruhan hidupnya dan itu termasuk saat manusia berpikir dengan sangat keras. Tapi entah mengapa, setiap kali aku berpikir, nampaknya otakku bekerja di luar keinginanku dan kejadian aneh selalu terjadi saat pikiran itu melintas dengan perlahan. Contohnya: setiap kali aku melihat daun yang jatuh, aku memikirkan benda apa yang jatuh lainnya, kemudian... gedung Thorian House langsung rubuh begitu saja. Massa panik, mereka menganggap ada teroris di kota. Padahal, itu semua karena Realizer milikku. Yap, aku menyebutnya kemampuan ini Realizer karena semua yang aku pikirkan menjadi nyata dengan secepat aku berpikir.

Kalau aku ketahuan bahwa sebenarnya aku yang membuat kekacauan ini, mungkin diriku sudah ditangkap dan otakku diteliri lebih lanjut dengan membedahnya per sel. Tapi, aku masih belum mau mati. Aku sudah menyogok dokterku untuk tidak bicara dan berharap kalau seluruh keluargaku tidak ada yang tahu. Tetapi ini memang sulit dilakukan karena Realizer terus saja aktif dan membuat kekacauan lain seperti waktu itu: Saat aku memikirkan perempuan cantik, aku kemudian berpikir jika aku memperkenalkan diri, mungkin aku akan disukainya dan... BAM! Hampir seluruh siswa perempuan di sekolahku mengajakku berkencan. Kacau... semuanya kacau. Untungnya, efek Realizer bagi manusia terbatas. Biasanya 2-3 hari kemudian, efeknya langsung hilang.

Oh iya, ngomong-ngomong soal sekolah, aku tidak punya teman. Mereka menjauhiku karena aku dianggap orang aneh. Yah, aku sih tidak bisa mengelak kalau aku itu aneh. Lagipula aku tidak mau ada orang menangisi kepergianku nanti. Aku tidak suka melihat orang sedih karena orang lain. Lebih baik kalau aku mati tanpa ada orang yang harus tahu.

Kembali lagi soal Realizer. Setiap kali kemampuan itu aktif, rasanya ada sebagian dari dalam tubuhku yang menghilang. Mungkin rasanya tidak akan terbayangkan oleh kalian, tapi aku jamin kalau ini sama sekali tidak menyenangkan.

Hari-hari penuh dengan kegilaan pun berlanjut. Aku terpaksa menikmatinya, soalnya aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sampai akhirnya, sesuatu yang besar terjadi. Oh, andaikan saja waktu itu aku tidak melihat orang itu lompat dari lantai 9...

Yup, aku melihat orang itu melompat, mendarat di bumi dengan kepala lebih dulu dan mati. Realizer langsung bekerja. Orang jatuh - mati - roh keluar - hantu - ketakutan - kekacauan... Sebuah kapal induk alien turun ke Bumi untuk mencari daerah kekuasaan yang baru dan menginvasi Bumi.

ARGGHHH!!! Ini sudah keterlaluan gilanya! Aku langsung lari menyelamatkan diri dari kejaran alien. Mahluk-mahluk itu sudah menghancurkan setengah kota dan menyebabkan kekacauan di mana-mana. Kekacauan, ya? Baru kali ini aku merasa takut. Padahal sebelumnya, aku tidak pernah takut mati karena aku sudah tahu kapan aku akan segera mati.

Kemudian, di saat kritis itu, aku bertemu dengannya...
Seorang gadis cantik dengan mata violet dan seragam sekolah sebelah...
Kita berdua berpapasan saat hendak kabur dari kekacauan di kota. Kita berlari bersama-sama keluar dari kota... Lebih tepatnya, dia yang menyeretku keluar dari kota.

Selama di jalan, aku berbicara dengannya. Katanya dia sebenarnya sedang tidur di sekolah saat mahluk itu menyerang. Tapi... tidur di sekolah? Anak ini punya masalah. Lalu dia juga bilang kalau dia sedang mencari seseorang yang sangat penting tapi dia sama sekali tidak tahu siapa yang dia cari sebenarnya. Anak yang aneh...

Kemudian, aku berbicara tentang diriku sendiri. Semua rahasiaku tentang Realizer kuutarakan padanya yang anehnya, membuatku merasa lebih baik. Awalnya dia kaget, tapi akhirnya dia memutuskan kalau itu cuma nasibku saja yang tidak baik. Aku rasa gadis ini agak beda dengan orang lain. Kalau orang biasa, pasti akan segera menyalahkan diriku dan mungkin bisa saja membunuhku langsung di sini, berharap kalau aku mati maka mahluk itu akan menghilang. Tapi dia malah membantuku untuk tetap maju dan menghadapi apa yang akan terjadi...

Di tengah pembicaraan itu, tiba-tiba hal yang buruk terjadi. Salah satu alien itu muncul tiba-tiba. Dia menangkap gadis itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak. Kemudian... alien itu memakannya...


Perasaan langsung berkecamuk dalam pikiranku. Gadis itu sudah mau mendengarkanku, ia tidak membenciku, ia tetap menyemangatiku walaupun aku sumber dari segala kekacauan ini, kemudian dia menghilang begitu saja. Diriku langsung seperti meja yang kehilangan kakinya, jatuh. Hatiku tidak mampu menerimanya... Aku tidak mau orang yang berharga di hadapanku hilang begitu saja!
Dan pada saat itulah, Realizer benar-benar membuat kepalaku serasa mau pecah. Tapi, aku tetap menahan rasa 'hilang' itu. Yang kupikirkan saat itu adalah 'kembalikan dia!'

Sebuah cahaya yang menyilaukan keluar dari atas kepalaku. Sebuah sinar yang menembus langit kemudian melingkupi seisi kota.
[suara hati penulis: "ada kupu-kupu tiba-tiba masuk ke kamar gua. ngeganggu ajah!"]
Yang kurasakan selanjutnya adalah kehangatan... ketenangan... Apa aku sudah mati? Kemudian aku melihat... apa itu malaikat?

Bukan.

Itu wajahnya. Dan juga mata violetnya. Dia nampak khawatir.
Aku sedang membaringkan kepalaku di atas pangkuannya. Kulihat juga langit biru di belakang kepalanya. Langit yang cerah... Tapi, kenapa basah?
Dia menangis. Dia takut kalau aku mati dihadapannya.

Aku lupa bilang kepadanya. Selama ada yang menangisi kepergianku, aku masih belum bisa mati...


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------



HAH? ENDINGNYA? YAH... PIKIR SeNDIRI AJAH!

KOMENTARNYA BOZZ!!!

Cape pisan bikinnya...

1 komentar: